| No comment yet

Jenderal & Bebek

 

 

Seorang jenderal panglima perang beserta sisa pasukannya baru saja kembali dari medan pertempuran.Mereka terlihat sangat kelelahan dan nampak sebagian dari mereka terluka.Perjalanan mereka terhenti di sebuah sungai dan mereka pun beristirahat sejenak melepas lelah sambil mengobati prajurit yang terluka.Saat perjalanan akan dilanjutkan mereka harus menyeberangi sungai itu, air sungai nampak tenang dan membuat sang jenderal mencari-cari lokasi yang dianggapnya tepat untuk menyeberang.

Tak jauh dari tempat itu nampak seorang pengembala bebek, dan sang jenderal bertanya "Hey penggembala bebek, kami harus menyeberang sungai ini, tunjukkan disebelah mana tempat yang aman untuk kami menyeberangi sungai ini?"Si penggembala bebek tergopoh-gopoh berlari mendekati sang jenderal dan segera menunjukkan arah tak jauh dari tempatnya berdiri dimana bebek-bebeknya berada.

Sang jenderal segera menginstruksikan beberapa prajuritnya untuk menaiki kuda masing-masing dan masuk ke sungai ditempat yang ditunjukkan oleh si penggemabal bebek.Namun apa dinyana sesampai ditengah sungai, kuda yang berada di barisan paling depan terperosok dan penunggangnya terjatuh hingga nyaris hanyut terbawa arus sebelum akhirnya tertolong oleh rekan-rekan prajurit lainnya.

Sang jenderal sangat marah dan segera memerintahkan para prajuritnya menangkap si penggembala bebek dan bersiap untuk memenggal kepalanya."Hey anak muda, sungguh berani sekali kamu menyesatkan kami, hampir saja prajuritku mati gara-gara kamu" si penggembala bebek menangis ketakutan seraya memohon ampun, katanya terbata-bata "Ampun.. ampun.. Tuan.. sungguh saya tidak bermaksud mencelakakan Tuan"Sang jenderal makin geram dan berteriak "Kamu lihat sendiri, arah yang kamu tunjukkan adalah salah, sungai disana sangat dalam dan seekor kuda telah mati gara-gara kamu!"

"Ampun.. Tuan, ampun.. bukankah tadi di tempat itu bebek-bebek saya berenang dengan aman?"

Kali ini sang jenderal tertegun, sejenak berpikir lalu tersadarkan bahwa dirinya telah salah bertanya kepada orang yang tidak tepat.Serta merta dia memerintahkan prajuritnya untuk membebaskan si penggembala bebek itu.
| No comment yet

Semut dan Lalat

 

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya.
Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka. 
 
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
 
Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?”.
 
“Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita” Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi ”Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?”.
 
Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab ”Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama”. Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius ”Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini”.
 
salam bijaksana,
| No comment yet

Dicari: Orang Bodoh

 


Ketika Anda membaca iklan lowongan kerja di koran, sedang iseng maupun sedang serius, Anda pasti melihat kata-kata yang tipikal. IPK biasanya di atas 2,75 bahkan ada yang minta di atas 3.
Semua orang yang memiliki nilai IPK setinggi itu akan bisa mendaftarkan diri pada lowongan kerja itu. Alasan untuk tidak melamar pekerjaan, paling hanya karena bidang pengetahuan tidak cocok atau lokasi kerja yang tidak disukai. Itu berarti yang dicari adalah orang dengan IPK tinggi. Itu berarti yang dicari adalah orang yang cukup pintar.

Sekarang mari kita tidak membatasi istilah pintar hanya di atas 2,75 sehingga kita tidak perlu menyatakan bahwa semua orang yang mendapatkan IPK di bawah 2,75 sebagai orang bodoh. Tetapi sering sekali kan ada orang pintar yang menyatakan, sekalipun dalam hati, bahwa ada orang lain yang dia katakan orang bodoh?

Nah, bayangkan Anda membuat iklan lowongan kerja di koran: mencari orang bodoh. Apakah ada orang yang akan melamar? Saya rasanya yakin sekali tidak ada orang yang akan menjawab iklan lowongan kerja tersebut. Mengapa ya?

Karena tidak ada orang yang ingin dibilang bodoh. Tidak ada orang yang merasa bodoh. Sehingga iklan lowongan kerja Anda akan sepi pelamar. Kalau demikian, mengapa sering kali ada orang yang menyatakan “pantas saja saya tidak dapat pekerjaan, karena saya kan bodoh” (atau dengan kata lain yang lebih halus seperti: saya kan tidak terlalu berpendidikan, pengetahuan saya kan kurang).

Toh pada kenyataannya, ketika secara resmi ada kesempatan untuk mengakui bodoh, tidak ada yang melamar. Pertama, mungkin banyak yang mengira bahwa iklan tersebut salah tulis (tetapi apa mungkin salah tulis kata: bodoh?). Ke dua, sangat tidak mungkin ada yang mau mengaku secara terbuka bahwa dirinya bodoh.

Atau bahkan Anda bukan yang memberi lowongan kerja, tetapi membaca satu lowongan kerja diiklankan. Apakah Anda akan melamar bila yang dicari oleh pemberi kerja adalah orang bodoh?

Wah, mana mungkin.
Iya, dong. Betapa menariknya fasilitas, gaji atau apapun yang ditawarkan lowongan kerja itu, saya yakin Anda tidak akan melamar, bila syarat yang diminta hanya: bodoh!

Mengapa begitu yakin?
Oh ya tentu saja. Sebaik apapun fasilitas dan gaji yang ditawarkan, beranikah Anda mengaku bahwa Anda bodoh? Tidak? Anda tidak berani mengaku bodoh?
Itulah masalahnya. Anda bukan tidak berani mengaku, karena Anda sebenarnya tidak mau dikatakan bodoh. Tetapi apakah Anda bodoh? Tidak. Anda cerdas. Sangat cerdas, karena Anda berhasil masuk ke situs ini, kan? Anda berhasil membaca lengkap tulisan ini kan? Jadi Anda sangat cerdas.

Justru saya yang bingung sekarang, mengapa Anda seringkali terlalu merendah dengan mengatakan pengetahuan Anda tidak baik, bahwa kepintaran Anda masih rendah, atau kata-kata seperti itu. Jelas-jelas Anda tidak bodoh, bahkan tidak mau dibilang bodoh, sehingga tidak mau melamar pekerjaan pada perusahaan yang mencari orang bodoh.

Benarkah Anda memang ingin menjadi semakin rendah? Kalau tidak demikian maka tidak ada gunanya untuk terlalu merendah. Ketika Anda dipuji, mengapa tidak berterima kasih saja. Sehingga tidak berkesan sombong.

Tetapi merendah terlalu berlebihan malam menjadi masalah baru bagi Anda. Sadarkah Anda bahwa apapun yang keluar dari mulut Anda, dapat menjadi doa?

Jadi sekarang Anda sudah percaya bahwa Anda cerdas? Oke, Anda tidak perlu melamar bila ada perusahaan mencari orang bodoh. Berarti Anda harusnya tidak mungkin kalah dong dalam kompetisi mendapatkan lowongan kerja tersebut?
Tidak, Anda sama sekali tidak bodoh. Hanya saja Anda tidak percaya bahwa seberapa cerdaspun Anda, selalu masih ada ruang, masih ada kesempatan untuk meningkatkan kecerdasan, kemampuan dan pengetahuan Anda.

Memang ada yang tidak percaya bahwa masih perlu menambah kecerdasan dan kemampuan serta pengetahuan? Wah itu kan kata Anda. Di sekitar kita, ternyata ada yang seperti itu.
Iya sih, saya sadar, tapi bagaimana cara meningkatkan kecerdasan, kemampuan, pengetahuan? Caranya tidak terlalu sulit, hanya pelaksanaannya yang seringkali dianggap sulit: Buku.
Mengapa sulit? Sebagian besar orang lebih suka melihat tulisan di antara gambar, seperti di majalah dan tabloid, dibanding satu gambar di antara rimba huruf seperti buku. Lebih seru lagi karena beberapa teman saya justru menjadikan buku sebagai obat tidur. Hebat ya? Kalau dia sulit tidur, maka dia ambil buku, baru baca satu baris, sudah tidur. Sangat mujarab.
Tetapi ironi sekali bagi Anda yang ingin menjadi lebih baik dengan meningkatkan kecerdasan, kemampuan, pengetahuan ya? Apa boleh buat, Anda yang ingin menjadi lebih baik, maka Anda yang perlu menjalankan cara yang tidak terlalu sulit itu.
Tetapi mengapa buku? Tidak bisa yang lain? Bisa, bisa sekali. Tetapi tidak akan terlalu detail ketika Anda justru membutuhkan informasi yang detil. Tetapi terlalu detail malah membuat Anda bosan membacanya. Jadi? Lihatlah di buku Instrumen Orang Sukses, tentang cara memilih buku.
Anda jelas bukan orang bodoh, tetapi selalu ada orang yang lebih cerdas dari saya, begitu pula selalu ada yang lebih cerdas dari Anda. Namun, bukan berarti karena ada orang lain yang lebih cerdas dari Anda, maka Anda berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik.
Anda pasti dapat yang terbaik, bila Anda menjadi lebih cerdas.
| No comment yet

Dicari: Pemalas

 


Sekali lagi kita bicara tentang lowongan pekerjaan. Setiap saat kita melihat kata-kata bahwa calon pekerja yang dicari adalah orang yang punya motivasi dan bersemangat kerja tinggi. Atau dapat pula kita lihat bahwa yang dicari adalah orang yang punya inisiatif, dapat bekerjasama dan banyak lagi kata-kata yang menunjukkan bahwa orang yang dicari adalah orang yang cukup rajin, ulet, penuh ide. Jelas tidak akan ada perusahaan yang mencari pemalas.

Orang yang setelah diterima untuk bekerja, hanya datang pagi hari, duduk diam atau hanya baca koran, pergi keluar siang hari dengan alasan istirahat makan, kemudian masuk lagi dan tetap saja hanya duduk sambil bicara ke sana ke mari atau baca koran lagi, dan pulang. Memang, justru karena aneh, maka tidak ada yang berani mengumumkan bahwa mereka mencari orang yang malas.

Saya yakin Anda (yang pemilik bisnis) pasti tertawa terbahak-bahak membayangkan bila Anda membuat iklan lowongan kerja mencari orang malas. Pasti Anda akan serta merta, lebih baik menderma dan menjadi filantropi daripada mempekerjakan orang malas. Betapa tidak. Sangat besar resiko bagi Anda bila mempekerjakan orang malas. Karena mau tidak mau Anda tetap akan memberikan gaji kepada orang yang bersangkutan, paling tidak sampai Anda memutuskan hubungan kerja dengan yang bersangkutan. Maka ketika orang tersebut masih mendapatkan gaji dan masih terdaftar sebagai pegawai di tempat Anda, berarti semua pegawai Anda yang lain akan mengetahui kemalasan yang bersangkutan.

Di sisi lain dalam setiap perusahaan yang berpegawai lebih dari seribu orang, seringkali terdapat 3 (tiga) kelompok pekerja. Pekerja yang self motivated, dari sinilah ide-ide cemerlang sering berasal.Mereka bisa bekerja di unit kerja manapun tetapi seringkali terhubung dalam sebuah jaringan pertemanan atau paling tidak akan sering berdiskusi. Lalu ada kelompok ragu-ragu, karena merasa selama ini sudah bekerja baik tetapi belum terperhatikan seperti promosi atau mutasi ke tempat atau unit kerja yang dia minati. Yang terakhir adalah para pemalas. Mereka mungkin karena sudah kehilangan motivasi atau memang aslinya suka bersantai, tidak bekerja tetapi ingin mendapatkan uang.

Jelas Anda tidak ingin memiliki pegawai seperti ini, tetapi Anda tidak punya sistem untuk mengeluarkan mereka dari perusahaan Anda. Anda bahkan khawatir untuk memecatnya karena ada sekian banyak peraturan yang terkait dengan PHK dan jelas kesinambungan hidup perusahaan Anda layak dipertahankan tanpa perlu dihantam badai tuntutan dari pegawai yang di PHK. Mungkin Anda punya sistem untuk memperingatkan dan memberhentikan pegawai tetapi itu berarti perusahaan Anda adalah perusahaan yang cukup besar dan itu bisa juga berarti sudah ada serikat pekerja perusahaan tersebut. Maka pemecatan juga akan menjadi sebuah proses yang cukup panjang melalui serangkaian negosiasi dengan serikat pekerja.
Saya tidak menyatakan bahwa serikat pekerja adalah lembaga yang selalu melindungi orang yang berbuat salah. Bukan demikian, tetapi serikat pekerja menjadi seperti perangkat hukum yang ingin memastikan bahwa seseorang memang melakukan kesalahan yang dituduhkan sehingga layak dijatuhi hukuman. Nah, kemalasan, sangat sulit untuk dinyatakan sebagai kesalahan. Karena tidak ada kerugian yang langsung dirasakan oleh individu-individu. Selain itu, sangat sulit untuk menghitung kerugian perusahaan karena seorang yang malas.

Seorang? Ya, Anda toh tidak dapat melakukan PHK pada sejumlah orang dengan satu kesalahan yang sama. Selalu harus dilakukan terhadap satu orang demi satu orang, walaupun kesalahan mereka sama. Maka perhitungan kerugian perusahaan pun hanya dapat dilakukan akibat kemalasan. Sekarang mari kita pindah ke sisi sebaliknya. Tadi kita semua sudah tahu seperti apa yang dimaksud dengan malas. Menjadi pertanyaan sekarang, benarkah Anda bisa mencapai tingkat kemalasan seperti tadi: datang pagi, tidak melakukan apapun di kantor dan pulang tepat waktu? Benarkah Anda tidak akan bosan tidak melakukan apapun selama di dalam kantor? Saya fikir itu tidak mungkin. Berarti Anda mungkin akan melakukan sesuatu seperti membaca koran, berbicara dengan teman yang kebetulan juga tidak sedang bekerja, menonton televisi (jika disediakan) atau menelpon ke sana kemari.

Wah ternyata banyak yang dapat Anda lakukan ya? Mari kita buka satu persatu. Membaca koran. Saya fikir, di organisasi apapun Anda bekerja sekarang, maka dapat dipastikan paling tidak dalam koran apapun, dapat dipastikan paling tidak ada satu berita yang berkaitan dengan tempat kerja Anda. Baik itu keluhan karena layanan konsumen yang diberikan oleh organisasi Anda, maupun layanan terbaik yang diberikan pada konsumen oleh organisasi atau perusahaan yang sejenis dengan tempat kerja Anda. Atau bisa saja orang mengeluh tentang keburukan layanan konsumen yang diberikan oleh organisasi atau perusahaan sejenis.Maka, selalu ada satu berita, paling tidak, yang terkait dengan tempat Anda bekerja.
\
Itu berarti Anda dapat mulai memanfaatkan waktu yang tidak Anda pergunakan untuk melakukan pekerjaan organisasi atau perusahaan Anda. Gunakan waktu itu untuk mengumpulkan berita. Anda mungkin kemudian akan tertarik untuk menganalisa tentang layanan seperti apa yang diharapkan oleh konsumen dari organisasi Anda, atau konsumen dari organisasi yang sejenis dengan tempat Anda bekerja.Maka, tanpa Anda sadari, Anda akan memberikan rekomendasi atas layanan yang akan diberikan kepada konsumen. Nah, sekarang, kemalasan Anda ternyata bermanfaat bagi tempat kerja Anda? Berbicara dengan teman? Tentang gosip artis? Tentang tempat makan atau makanan yang menarik? Atau tentang bagaimana konsumen mulai lebih sering mengkonsumsi layanan yang diberikan oleh perusahaan kompetitor?

Waduh, sudah mulai terlihat ya, betapa bicara dengan teman bisa memberikan manfaat bagi perusahaan tempat Anda bekerja. Nanti di bagian ‘Dicari: Penggosip’ akan kita buka lebih dalam. Menonton televisi? Kemalasan seperti ini yang sering Anda lakukan? Sepertinya akan sama persis dengan kemalasan bekerja dan mengalihkan ke membaca koran. Akan banyak sekali manfaat kemalasan Anda bagi perusahaan tempat Anda bekerja. Sementara kemalasan bekerja yang dialihkan menjadi menelpon ke sana kemari akan sejalan dengan kemalasan dan dialihkan dengan berbicara ke sesama pegawai, dan jelas akan kita kupas tuntas di bagian lain. Ah, apa iya kemalasan bisa dimanfaatkan?

Ya, kepada Anda para pemilik atau para pemimpin perusahaan, bila Anda perhatikan dengan seksama kemalasan masing-masing pegawai Anda dan bagaimana mereka mengalihkan kemalasan tersebut, Anda mungkin bisa mengubah kemalasan tersebut menjadi bermanfaat bagi perusahaan. Bagi Anda yang seringkali malas bekerja di kantor, mengapa Anda tidak mencari jalan untuk mengubah kemalasan itu jadi bermanfaat bagi perusahaan tempat Anda bekerja? Maka ketika pengalihan atas kemalasan Anda untuk bekerja sudah dialihkan, masihkah itu menjadi kemalasan?
| No comment yet

Mengapa Semua Orang Takut Hujan?

 

 

 

Di seminar-seminar motivasi saya di seluruh penjuru tanah air, sering saya lemparkan gagasan tentang tim impian (dream team). Tentu saja, lengkap dengan cerita dan tebak-tebakannya. Penasaran? Anda beruntung. Tanpa harus hadir di seminar saya, sekarang semuanya akan saya sampaikan. Begini ceritanya.

Mengapa hampir semua orang -termasuk presiden Amerika sekalipun- takut dengan yang namanya hujan? Ah, jangan langsung menyerah begitu. Cobalah pikir sebentar jawabannya. Yah, karena tiap-tiap butir hujan mematuhi sepenuhnya hukum tim. Dalam artian, masing-masing tidak pernah turun sendirian. Ia selalu turun bersama teman-temannya sebagai satu tim. Maka, jadilah hujan sungguhan, yang dihindari, bahkan ‘disegani' oleh siapapun (kecuali ojek payung). Hahaha!


Dan tahukah Anda, konon seekor kuda mampu menarik beban seberat dua ton. Sekali lagi, hanya dua ton. Saya uji Anda dengan pertanyaan, berapa ton yang mungkin diangkut oleh dua ekor kuda? Empat ton? Enam ton? Atau sepuluh ton? Mohon maaf, Anda salah! Percaya atau tidak, ternyata dua ekor kuda sanggup menyeret beban seberat 23 ton! Gila! Menurut saya, di situlah letak keampuhan
dream team. Tolong, jangan dibantah!

Kedua fenomena tersebut hendaknya diteladani oleh setiap tim, termasuk tim penjualan di setiap perusahaan. Di mana sesama penjual sejatinya menjunjung tinggi asas kebersamaan serta asas manfaat antara satu sama lain. Ya sinergi, ya berbagi. Bukankah begitu? Tetapi sepengetahuan saya, kebanyakan tim penjualan adalah kumpulan individu yang saling sikut, saling menelikung dan saling menjelek-jelekkan. Pokoknya,
ndak kompak blas!

Coba bayangkan yang sebaliknya!
Salesman Andi ngegosip yang positif tentang rekannya di hadapan prospek, "Saya salut dengan Bobby, Pak! Setiap kali bertemu dengan pelanggan, ia senantiasa menunjukkan sikap empati." Sementara salesman Bobby ngegosip yang positif pula soal Andi di depan prospek yang lain, "Wah, saya kagum pada Andi, Bu! Dia memiliki komitmen yang total terhadap pelanggan."

Lha, apa yang kemudian yang terjadi? Saya jamin catatan penjualan mereka berdua akan melambung gila-gilaan melampaui kolega-kolega mereka yang saling menjelek-jelekkan. Kok bisa? Jawabannya, gosip yang positif yang mereka sebarkan. Tak ayal lagi, itu menjadi promosi silang di antara mereka.


Dalam MLM, inilah yang diistilahkan dengan edifikasi
(endorsement). Yah, bukan rahasia lagi, penjualan dari satu grup sangat bergantung pada tingkat edifikasi sesama anggota di grup tersebut. Dan seperti yang saya bahas dalam buku bestseller 10 Jurus Terlarang, teknik ini juga berlaku terhadap partner bisnis Anda.

Memang, pelanggan sangat tertarik untuk mendengar kata-kata negatif dan cerita-cerita miring (Anda juga ‘kan?). Itu sih lumrah. Tetapi percayalah, pelanggan sama sekali tidak tertarik untuk membeli dari
salesman yang melontarkan kata-kata negatif dan cerita-cerita miring tentang rekannya sendiri (Anda juga ‘kan?). Sekali lagi, jangan lupa, edifikasi!
| No comment yet

Jadilah Orang Yang Keras Kepala!

 

 

 

Dua begawan Donald Trump dan Robert Kiyosaki sempat wanti-wanti, baik dalam kehidupan sehari-hari, bisnis, investasi, karya maupun bidang lainnya, kita mesti berpikir untuk menang, bukan sekedar tidak kalah.  Terkait itu, saya sreg sekali dengan General Electric (GE) -perusahaan terbesar nomor dua di dunia. Berawal pada tahun 1876, mengandalkan kekuatan teknologinya, GE kemudian merambah peralatan rumah tangga, lampu listrik, finansial, mesin jet pesawat, pembangkit nuklir, dan lain-lain.

Lantaran seradak-seruduk di segala lahan, mulai dekade 1970-an GE menjelma menjadi raksasa gemuk yang tidak lincah dan boros. Untunglah, pada tahun 1981 GE dinahkodai figur luar biasa bernama Jack Welch. Dengan teriakan, "
Fix, close, sell!" ia pun melego 200 anak perusahaannya dan mengakuisisi 1.700 perusahaan lainnya. Kriteria melego atau mengakuisisinya sederhana saja, menjadi nomor satu atau nomor dua di bidangnya. Apabila tidak, GE akan melupakan bidang tersebut. Istilah lainnya, memastikan menang, bukan sekedar tidak kalah.

Saat Jack masuk, nilai GE adalah US$ 14 miliar. Sewaktu ia keluar 20 tahun kemudian, nilainya meloncat setinggi US$ 130 miliar. Kalau boleh sombong, tidak ada seorang pun pemimpin bisnis di muka bumi ini yang sanggup melipatgandakan nilai seperti itu, selain dirinya. Akhir-akhir ini, GE dinilai sebesar setengah trilliun dolar dan tahun 2006 merek GE dihargai sebesar US$ 48.907 juta. Jadilah GE salah satu merek paling mahal di jagat ini. Dan ini semua berakar dari filosofi
menang, bukan sekedar tidak kalah.

Di tanah air, sedikit-banyak Ciputra Group, Kem Chicks, dan Astra Internasional juga mengamalkan falsafah itu. Di segala medan, mereka bertarung untuk
menang, bukan sekedar tidak kalah. Dan percaya atau tidak, pijakan utama untuk meraihnya adalah dengan menjadi orang yang keras kepala. Tentunya, dalam artian gigih, bukan ndableg asal-asalan. Tolong di-highlight itu. Sayangnya, selama ini Indonesia lebih dikenal sebagai bangsa yang ramah, bukan bangsa yang gigih. Kalau Jepang dan Korea, barulah disebut-sebut sebagai bangsa yang gigih.

Catatlah, baik Ciputra, Bob Sadino, maupun William Soerjadjaja juga pernah pailit bahkan terbelit utang. Tidak terkecuali. Setidak-tidaknya pada periode-periode tertentu. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak kepikir untuk balik kampung. Alih-alih begitu, mereka malah terus maju. Kini, mereka adalah ikon di jalurnya masing-masing.


Seorang ekonom asal Bangladesh -Muhammad Yunus- akan menunjukkan kepada kita semua apa yang dimaksud dengan gigih. Obsesinya ketika itu adalah bagaimana bank-bank setempat dapat menyalurkan dan mengulurkan kredit kepada warga yang sangat miskin. Bayangkan saja, banyak di antara mereka mengharapkan pinjaman berkisar 12.000 rupiah.


Ide yang sangat mulia ini sempat ia sodorkan ke mana-mana, namun ternyata semua pihak cuma menggelengkan kepala. Sepintar apapun ia berargumen, tetap saja bankir dan pejabat pemerintah berdalih, "Orang melarat tidak layak dikucur kredit." Untunglah, ia termasuk orang yang gigih. Ia tanggalkan dan tinggalkan cara pandang seekor burung. Alih-alih begitu, ia malah mengenakan cara pandang seekor cacing, di mana ia berusaha mengetahui apa yang terhampar tepat di depan mata. Dengan mengendusnya. Dengan menyentuhnya.


Mulanya, ia hanya menjadi semacam penjamin bagi warga yang sangat miskin. Lama-kelamaan, ia malah merintis banknya sendiri -tentu saja sesuai dengan konsep yang ia cita-citakan sedari awal. Namanya Grameen Bank. Tanpa diduga-duga, kini bank itu berhasil menangani 46.000 desa di Bangladesh melalui lebih dari 1.200 cabang. Atas jasanya yang tidak mengenal lelah tersebut, ia pun dianugerahi Nobel Perdamaian. Itulah buah dari kegigihan.

| No comment yet

Mau Menjual? Diamlah Sejenak!

 

 

 

Ketahuilah, mendengar adalah anak semata wayang dari empati. Nah, perihal sepasang kuping ini, sesaat lagi akan kita bedah habis-habisan, terutama dalam dunia penjualan. Di suatu forum, seorang profesional yang sok tahu pernah berkhotbah, "Seorang penjual hendaklah banyak bicara agar bisa selling. Seorang penjual hendaklah pintar ngomong agar bisa closing. Dengan demikian, pembicaraan bisa didominasi dan lawan bicara bisa dipersuasi."

Betul begitu? Dulu, saya pikir memang begitu sih. Tetapi setelah saya berkubang bertahun-tahun di ranah bisnis, barulah saya melek bahwa itu semua adalah mitos. Sekali lagi, mitos. Thus, pendekatan dangkal seperti inilah yang saya stempel dengan istilah yell-tell-sell atau berteriak-memberitahu-menjual.

Di satu sisi, penjual memang dituntut untuk sedikit talkative, umpamanya untuk memulai pembicaraan serta menyampaikan product knowledge. Namun, di sisi lainnya, penjual juga harus bisa menutup mulut dan membuka telinganya. Mbok ya pelanggan diberi kesempatan untuk bicara. Sesekali, intiplah hubungan sepasang kekasih yang tengah kasmaran. Kedua belah pihak tahu persis kapan mesti bicara, kapan mesti mendengar.

Anda tahu apa dalilnya? Begini. Ketika pelanggan angkat bicara, berarti penjual berpeluang untuk menggali lebih dalam lagi berbagai keinginan dari pelanggan. Istilah saya, 3 L, yaitu Listening, Learning, Leading. Inilah dalil pertamanya. Dalil kedua, manusia manapun senang didengerin, bukan diceramahin. Dalil ketiga, camkanlah, semua manusia hanya suka disolusiin, bukan dijualin.

Dalil keempat, manusia itu telah dikaruniai dua telinga dan satu mulut. Dua banding satu. Lha, apa hikmahnya? Tolong digarisbawahi, sudah menjadi takdir manusia untuk lebih sering mendengar ketimbang berbicara. Pantas saja Will Smith dalam film Hitch bolak-balik menasihati, "Listen and respond."

Memang, mendengar itu sakti mandraguna. Perkenankan sejenak saya menceritakan pengalaman pribadi saya. Percaya atau tidak, semasa SMA -terutama di kelas dua dan tiga- saya hampir-hampir tidak pernah menenteng buku ke sekolah dan hampir-hampir tidak pernah mencatat penjelasan guru di kelas. Namun demikian, berulang kali saya menjadi juara di kelas, bahkan menjadi mahasiswa undangan di sejumlah kampus favorit. Kok bisa? Kalau boleh jujur, kala guru mengajar, saya hanya mendengarkan. Tepatnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Begitulah, mendengar itu sakti.

Di antara gadis-gadis yang pernah dekat dengan saya, ada seorang yang sulit saya lupakan. Apakah karena dia sangat cantik? Apakah karena dia sangat pintar? Tidak, tidak. Dia orang biasa-biasa saja. Tetapi satu hal yang membuat saya nyaman bersamanya adalah kesediaannya untuk mendengar. Tepatnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Lagi-lagi, mendengar menunjukkan kesaktiannya.

Kembali soal penjualan. Jadi, penjual terbaik bukanlah penjual yang banyak omong. Penjual terbaik adalah penjual yang bisa membuat pelanggannya banyak omong. Apalagi bila pelanggan mulai cerita macam-macam hingga curhat kepada penjual, wah, itu hebat sekali. Berarti, pelanggan telah percaya penuh kepada penjual.

Kesimpulannya, kalau Anda ingin menjadi penjual, Anda tidak saja melatih diri untuk berbicara, tetapi juga melatih diri untuk mendengar. Wajib itu! Namun, tidak sembarang mendengar, melainkan mendengar dengan empati, di mana penjual sanggup berpikir dalam perspektif pelanggannya. Setuju? Intinya, cobalah terlebih dahulu menelusuri alur pikiran pelanggan. Sejurus setelah memahami kebutuhannya, barulah kemudian Anda menawarkan solusinya. Saya selalu membahasakan: other centric first, then self-centric. Otak kanan dulu, baru otak kiri.