Dicari: Orang Bodoh
Ketika Anda membaca iklan lowongan kerja di koran, sedang iseng
maupun sedang serius, Anda pasti melihat kata-kata yang tipikal. IPK
biasanya di atas 2,75 bahkan ada yang minta di atas 3.
Semua orang yang memiliki nilai IPK setinggi itu akan bisa
mendaftarkan diri pada lowongan kerja itu. Alasan untuk tidak melamar
pekerjaan, paling hanya karena bidang pengetahuan tidak cocok atau
lokasi kerja yang tidak disukai. Itu berarti yang dicari adalah orang
dengan IPK tinggi. Itu berarti yang dicari adalah orang yang cukup
pintar.
Sekarang mari kita tidak membatasi istilah pintar hanya di atas 2,75
sehingga kita tidak perlu menyatakan bahwa semua orang yang mendapatkan
IPK di bawah 2,75 sebagai orang bodoh. Tetapi sering sekali kan ada
orang pintar yang menyatakan, sekalipun dalam hati, bahwa ada orang lain
yang dia katakan orang bodoh?
Nah, bayangkan Anda membuat iklan lowongan kerja di koran: mencari
orang bodoh. Apakah ada orang yang akan melamar? Saya rasanya yakin
sekali tidak ada orang yang akan menjawab iklan lowongan kerja tersebut.
Mengapa ya?
Karena tidak ada orang yang ingin dibilang bodoh. Tidak ada orang
yang merasa bodoh. Sehingga iklan lowongan kerja Anda akan sepi pelamar.
Kalau demikian, mengapa sering kali ada orang yang menyatakan “pantas
saja saya tidak dapat pekerjaan, karena saya kan bodoh” (atau dengan
kata lain yang lebih halus seperti: saya kan tidak terlalu
berpendidikan, pengetahuan saya kan kurang).
Toh pada kenyataannya, ketika secara resmi ada kesempatan untuk
mengakui bodoh, tidak ada yang melamar. Pertama, mungkin banyak yang
mengira bahwa iklan tersebut salah tulis (tetapi apa mungkin salah tulis
kata: bodoh?). Ke dua, sangat tidak mungkin ada yang mau mengaku secara
terbuka bahwa dirinya bodoh.
Atau bahkan Anda bukan yang memberi lowongan kerja, tetapi membaca
satu lowongan kerja diiklankan. Apakah Anda akan melamar bila yang
dicari oleh pemberi kerja adalah orang bodoh?
Wah, mana mungkin.
Iya, dong. Betapa menariknya fasilitas, gaji atau apapun yang
ditawarkan lowongan kerja itu, saya yakin Anda tidak akan melamar, bila
syarat yang diminta hanya: bodoh!
Mengapa begitu yakin?
Oh ya tentu saja. Sebaik apapun fasilitas dan gaji yang ditawarkan,
beranikah Anda mengaku bahwa Anda bodoh? Tidak? Anda tidak berani
mengaku bodoh?
Itulah masalahnya. Anda bukan tidak berani mengaku, karena Anda
sebenarnya tidak mau dikatakan bodoh. Tetapi apakah Anda bodoh? Tidak.
Anda cerdas. Sangat cerdas, karena Anda berhasil masuk ke situs ini,
kan? Anda berhasil membaca lengkap tulisan ini kan? Jadi Anda sangat
cerdas.
Justru saya yang bingung sekarang, mengapa Anda seringkali terlalu
merendah dengan mengatakan pengetahuan Anda tidak baik, bahwa kepintaran
Anda masih rendah, atau kata-kata seperti itu. Jelas-jelas Anda tidak
bodoh, bahkan tidak mau dibilang bodoh, sehingga tidak mau melamar
pekerjaan pada perusahaan yang mencari orang bodoh.
Benarkah Anda memang ingin menjadi semakin rendah? Kalau tidak
demikian maka tidak ada gunanya untuk terlalu merendah. Ketika Anda
dipuji, mengapa tidak berterima kasih saja. Sehingga tidak berkesan
sombong.
Tetapi merendah terlalu berlebihan malam menjadi masalah baru bagi
Anda. Sadarkah Anda bahwa apapun yang keluar dari mulut Anda, dapat
menjadi doa?
Jadi sekarang Anda sudah percaya bahwa Anda cerdas? Oke, Anda tidak
perlu melamar bila ada perusahaan mencari orang bodoh. Berarti Anda
harusnya tidak mungkin kalah dong dalam kompetisi mendapatkan lowongan
kerja tersebut?
Tidak, Anda sama sekali tidak bodoh. Hanya saja Anda tidak percaya
bahwa seberapa cerdaspun Anda, selalu masih ada ruang, masih ada
kesempatan untuk meningkatkan kecerdasan, kemampuan dan pengetahuan
Anda.
Memang ada yang tidak percaya bahwa masih perlu menambah kecerdasan dan
kemampuan serta pengetahuan? Wah itu kan kata Anda. Di sekitar kita,
ternyata ada yang seperti itu.
Iya sih, saya sadar, tapi bagaimana cara meningkatkan kecerdasan,
kemampuan, pengetahuan? Caranya tidak terlalu sulit, hanya
pelaksanaannya yang seringkali dianggap sulit: Buku.
Mengapa sulit? Sebagian besar orang lebih suka melihat tulisan di
antara gambar, seperti di majalah dan tabloid, dibanding satu gambar di
antara rimba huruf seperti buku. Lebih seru lagi karena beberapa teman
saya justru menjadikan buku sebagai obat tidur. Hebat ya? Kalau dia
sulit tidur, maka dia ambil buku, baru baca satu baris, sudah tidur.
Sangat mujarab.
Tetapi ironi sekali bagi Anda yang ingin menjadi lebih baik dengan
meningkatkan kecerdasan, kemampuan, pengetahuan ya? Apa boleh buat, Anda
yang ingin menjadi lebih baik, maka Anda yang perlu menjalankan cara
yang tidak terlalu sulit itu.
Tetapi mengapa buku? Tidak bisa yang lain? Bisa, bisa sekali. Tetapi
tidak akan terlalu detail ketika Anda justru membutuhkan informasi yang
detil. Tetapi terlalu detail malah membuat Anda bosan membacanya. Jadi?
Lihatlah di buku Instrumen Orang Sukses, tentang cara memilih buku.
Anda jelas bukan orang bodoh, tetapi selalu ada orang yang lebih
cerdas dari saya, begitu pula selalu ada yang lebih cerdas dari Anda.
Namun, bukan berarti karena ada orang lain yang lebih cerdas dari Anda,
maka Anda berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan yang lebih
baik.
Anda pasti dapat yang terbaik, bila Anda menjadi lebih cerdas.